
berubah dari waktu ke waktu. Dalam Global Antibiotic Resistance Surveillance
Report 2025, WHO menyajikan data surveilans resistensi antimikroba dari
berbagai negara dan menyoroti pentingnya data laboratorium yang berkualitas.
Informasi ini dapat membantu tenaga kesehatan dan pembuat kebijakan
menentukan tindakan pengendalian infeksi serta memilih terapi yang lebih sesuai
(WHO, 2025).
Laporan WHO tahun 2025 juga menyoroti data resistensi pada infeksi bakteri
yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Oleh sebab itu, penguatan
sistem surveilans dan pelaporan yang konsisten penting agar gambaran resistensi
dapat dipahami dengan lebih baik. Data yang memadai juga membantu
mengidentifikasi ancaman yang membutuhkan perhatian segera.
Upaya mengatasi resistensi antibiotik tidak hanya menjadi tanggung jawab
rumah sakit atau tenaga medis. Masyarakat dapat ikut berperan dengan tidak
membeli atau menggunakan antibiotik tanpa resep atau arahan tenaga kesehatan,
mengikuti aturan penggunaan yang diberikan, serta tidak menyimpan atau
membagikan antibiotik sisa. Jika kondisi memburuk atau obat menimbulkan efek
yang mengkhawatirkan, pasien perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan
daripada mengubah pengobatan sendiri.
Fasilitas pelayanan kesehatan juga berperan melalui pencegahan dan
pengendalian infeksi, kebersihan tangan, pemeriksaan laboratorium yang tepat,
serta penggunaan antibiotik secara bijak. Di tingkat kebijakan, surveilans yang
kuat perlu didukung oleh laboratorium, tenaga terlatih, sistem pelaporan, dan kerja
sama lintas sektor. Pendekatan ini sejalan dengan upaya global untuk menjaga
efektivitas antibiotik dan mengurangi penyebaran mikroorganisme yang resisten.
Pada akhirnya, resistensi antibiotik perlu ditangani melalui penggunaan
antibiotik yang bertanggung jawab, pencegahan infeksi, dan pemantauan yang
berkelanjutan. Laporan WHO menjadi salah satu sumber penting untuk memahami
pola resistensi dan kebutuhan penguatan surveilans di berbagai negara. Dengan
kerja sama masyarakat, tenaga kesehatan, laboratorium, dan pemerintah,
penggunaan antibiotik dapat menjadi lebih tepat serta risiko penyebaran bakteri
resisten dapat ditekan.