Anemia Defisiensi Besi dan Brain Fog: Dampak Kurang Darah Terhadap
Fungsi Kognitif Mahasiswa
Oleh : Tiara Novinka Ayisha
"Kesehatan pikiran dan ketajaman fokus tidak tercipta secara instan,
melainkan dibangun melalui kecukupan nutrisi dan sel darah merah
yang sehat setiap hari."
Di tengah tingginya ritme kehidupan akademik saat ini, kesehatan fisik sering kali
menjadi hal utama yang dikorbankan. Jadwal perkuliahan yang padat, tuntutan tugas, kegiatan
organisasi, hingga pola makan yang tidak teratur membuat banyak mahasiswa rentan
mengalami masalah gizi. Bagi mahasiswa, menunda waktu makan atau mengonsumsi makanan
seadanya yang kurang bergizi sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Meskipun terlihat biasa
saja jika hanya dilakukan sesekali, pola hidup yang tidak sehat ini secara perlahan dapat
memicu masalah kesehatan yang lebih serius, salah satunya adalah Anemia Defisiensi Besi
(ADB).
Salah satu dampak yang paling sering dikeluhkan tetapi jarang disadari keterkaitannya
dengan ADB adalah brain fog. Kondisi ini ditandai dengan perasaan linglung, sulit
berkonsentrasi, penurunan daya ingat jangka pendek, serta kelambatan dalam memproses
informasi. Orang yang mengalami brain fog sering kali merasa pikirannya "terkabut" dan sulit
untuk fokus, meskipun sudah berusaha keras untuk belajar atau bekerja.
Masalah anemia dan penurunan fungsi kognitif ini sangat relevan di kalangan
mahasiswa. Mahasiswa kerap dihadapkan pada batas waktu tugas (deadline), ujian, serta
tanggung jawab sosial dan organisasi. Tuntutan ini membutuhkan ketajaman berpikir dan
energi mental yang optimal. Ketika anemia terjadi, pasokan oksigen ke otak berkurang,
sehingga memicu rasa lelah berkepanjangan dan penurunan performa akademis.
Anemia Defisiensi Besi merupakan kondisi ketika tubuh kekurangan zat besi yang
diperlukan untuk menghasilkan hemoglobin. Hemoglobin adalah protein dalam sel darah
merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh, termasuk
otak. Dalam kondisi normal, seseorang yang memiliki kadar hemoglobin cukup akan merasa
bertenaga, mudah fokus, dan memiliki daya ingat yang baik. Namun, ketika kadar zat besi
menurun, produksi hemoglobin terganggu sehingga suplai oksigen ke otak pun ikut berkurang.
Penyebab ADB tidak hanya terbatas pada satu faktor semata. Pola makan yang kurang
mengonsumsi makanan sumber zat besi (seperti daging merah, hati, dan sayuran hijau),
gangguan penyerapan nutrisi, serta pendarahan (seperti menstruasi pada wanita) berperan
penting dalam memicu kondisi ini. Di lingkungan kampus, kebiasaan sering melewatkan
sarapan, mengonsumsi makanan cepat saji, serta kebiasaan minum kopi atau teh secara
bersamaan saat makan—yang dapat menghambat penyerapan zat besi—semakin memperburuk
risiko terjadinya anemia.
Faktor lain yang turut berkontribusi meliputi kurangnya asupan Vitamin C yang
membantu penyerapan zat besi non-heme, diet ekstrem yang tidak seimbang, serta tingkat stres
yang tinggi. Berbagai penelitian kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa remaja putri dan
wanita usia subur (WUS) memiliki risiko paling tinggi mengalami defisiensi besi akibat
kehilangan darah bulanan saat menstruasi. Jika tidak ditangani, kondisi ini tidak hanya
menurunkan ketahanan fisik tetapi juga mengganggu performa akademik secara signifikan.
ADB dan brain fog tidak muncul secara mendadak. Pada banyak kasus, kondisi ini berkembang
secara perlahan akibat kebiasaan sehari-hari yang merusak status gizi tubuh. Sering kali
mahasiswa membiarkan rasa lelah dan kesulitan fokus berlarut-larut, menganggapnya hanya
sebagai efek kurang tidur atau beban kuliah. Padahal, penurunan fungsi kognitif yang dibiarkan
terus-menerus dapat menghambat proses belajar dan mengurangi kualitas hidup secara
keseluruhan.
"Kadang masalahnya bukan karena kita kurang berusaha untuk fokus,
melainkan karena tubuh kita secara perlahan kehabisan oksigen akibat
kekurangan zat besi."
Deteksi dini anemia dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium sederhana,
seperti penentuan kadar hemoglobin (Hb) dan hematokrit, atau pemeriksaan serum feritin
untuk melihat cadangan besi dalam tubuh. Petugas kesehatan atau layanan kesehatan
kampus dapat mengevaluasi gejala fisik seperti wajah pucat, konjungtiva mata pucat, serta
rasa lelah berlebih untuk menentukan penanganan yang tepat.
Penanganan ADB dan brain fog dapat dilakukan melalui perbaikan pola makan dan
intervensi gizi. Langkah paling utama adalah menerapkan gizi seimbang dengan
mengonsumsi makanan kaya zat besi, baik besi heme (daging sapi, ayam, hati, ikan)
maupun besi non-heme (bayam, kacang-kacangan, tahu). Mengombinasikan makanan
kaya zat besi dengan vitamin C (seperti jeruk atau jambu biji) juga sangat dianjurkan untuk
mengoptimalkan penyerapan zat besi di saluran pencernaan.
Pencegahan merupakan langkah strategis dalam kesehatan masyarakat. Pemberian
edukasi gizi mengenai bahaya anemia, peningkatan kesadaran akan pentingnya sarapan
sehat, serta program suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin bagi remaja
putri dan wanita usia subur terbukti efektif menurunkan prevalensi anemia. Selain itu,
membatasi konsumsi zat penghambat penyerapan zat besi (seperti tanin dalam teh dan
kafein dalam kopi) disekitar waktu makan dapat membantu menjaga kadar zat besi tubuh
tetap optimal.
Pada akhirnya, fenomena brain fog akibat Anemia Defisiensi Besi mengingatkan
kita bahwa otak memerlukan nutrisi yang cukup untuk berfungsi secara maksimal.
Kesehatan fisik dan gizi tidak boleh dikorbankan demi kesibukan akademik semata.
Perubahan kecil dalam kebiasaan makan dan kesadaran akan gizi seimbang, jika dilakukan
secara konsisten, dapat memberikan dampak besar bagi kejernihan pikiran, ketajaman
kognitif, dan kesejahteraan hidup mahasiswa secara menyeluruh.
References
World Health Organization (WHO). (2020). Guideline: Daily iron supplementation in adult
women and adolescent girls. World Health Organization.
https://www.who.int/publications/i/item/9789241549523
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Laporan Nasional Riskesdas: Prevalensi
Anemia dan Penanggulangannya di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan. https://kemkes.go.id/
Falkingham, M., et al. (2010). The effects of iron supplementation on cognition in older
children and adults: a systematic review and meta-analysis. Nutrition Journal, 9(1), 1-
13. https://nutritionj.biomedcentral.com/articles/10.1186/1475-2891-9-4
Beard, J. L. (2001). Iron biology in immune function, muscle metabolism and neuronal
functioning. The Journal of Nutrition, 131(2), 568S-580S.
https://academic.oup.com/jn/article/131/2/568S/4686887